Kebendilan (cerpen)

Di hari Kamis pagi 23 September 2021, Regen berwajah muram di sepanjang perjalanan menuju Cidahu, dari Rumahnya di Selatan Kota Jakarta dengan menggunakan mobil minibus yang dikemudikan oleh Papanya, Seperti berbicara sendirian, Papanya bercerita tentang pendakian ke Gunung Salak bersama Kawan-Kawan sewaktu ia muda dulu.


"Kamu tahu stigma yang melekat pada Gunung Salak, dari mulut ke mulut para Pendaki, Gen??" Papa bertanya dengan antusias


"Gunung Salak itu, gunung angker yang penuh misteri" Papa menjawab sendiri pertanyaannya sambil tetap fokus menyetir.


Regen duduk disamping kemudi dengan tatapan mata sayu pada kaca mobil di  hadapannya, pikirannya menerawang jauh, namun suara yang masuk ke telinga kanan masih bisa di dengar jelas olehnya, tentang story telling dari sang Papa, menceritakan kenangan terindahnya sewaktu ia berkenalan dengan Gadis cantik Pecinta Alam di atas Puncak Manik yang bernama Marina, dari perkenalan itu, terjalinlah hubungan dekat yang berujung pada sebuah Pernikahan bahagia dan melahirkan Anak Laki-Laki tampan yang diberi nama Regen Nara, diambil dari Bahasa Belanda dan Yunani memiliki arti Hujan Bahagia, kemudian suara story telling itu Regen keluarkan lagi melalui telinga kirinya.


Disayangkan tiga bulan sebelumnya, Marina telah  pergi ke Alam Baka, disebabkan sakit yang berujung koma dalam kurun waktu yang cukup lama, mungkin hanya Marina yang mengerti perubahan perilaku Anak Lelaki satu-satunya, yang menjadi pendiam dan menyendiri selama dua tahun terakhir, sementara Ardhi, merasa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengambil hati Anaknya, dimana pendakian ke Gunung Salak ini merupakan salah satu upayanya untuk bisa kembali dekat dengan si Anak, pada usianya yang beranjak dari 18 tahun, pendakian ini adalah pengalaman yang pertama bagi Regen.


Selama hampir dua tahun Marina dirawat di Rumah Sakit, yang tentunya membuat Ardi lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya, ketimbang berbincang hangat dengan Regen, demi bisa membayar tagihan biaya rawat inap dengan segenap usahanya yang penuh harap, walaupun pada hasil akhirnya, Regen dan Ardhi sama-sama didera kesedihan yang mendalam karena Kehilangan Seorang Wanita yang oleh Keduanya di panggil Mama. 


Penyebab yang membuat Regen tetap bersemangat menjalani Hari-harinya di dua tahun belakangan ini adalah kedekatannya dengan Elisa, Gadis manis dan pintar yang selalu memotivasi Regen giat belajar, agar lulus Sekolah dan mendapatkan Beasiswa Kuliah di Luar Negeri.


Usaha Regen berbuah manis ketika ia mendapatkan Predikat sebagai Siswa Terbaik dalam Ceremoni Kelulusan Sekolah, acara yang pada umumnya menjadi kebanggaan semua Orang Tua, namun sayangnya dirasa miris, karena Marina dan Ardhi tidak bisa mendampinginya.


Lebih miris lagi, ketika Regen hampir dapat mewujudkan apa yang menjadi harapan Marina yang pada kenyataanya malah menjadi sebuah dilema baginya, yakni  lolosnya ia masuk Universitas Ternama di Luar Negeri melalui jalur Beasiswa, gagal diapresiasi Elisa yang sudah lebih dulu meninggalkanya untuk Kuliah di sana, karena disisi lain Regen tidak tega meninggalkan Ardhi seorang diri yang baru saja ditinggalkan Wafat sang Istri.


Kurang lebih tiga jam mengendarai mobil, akhirnya perjalanan Ardhi dan Regen pun tiba di sebuah tempat yang menjadi Basecamp pendakian di Cidahu, setelah memarkirkan mobil, Mereka berdua berjalan dengan mengenakan tas ransel gunung yang disebut Carrier, dimana berat isinya mampu membuat nyeri di punggung yang merupakan salah satu keluhan awal bagi Para Pendaki Gunung, melangkah dengan santai menuju ke Loket Pos Registrasi untuk membayar tiket surat ijin masuk Kawasan Konservasi atau biasa disebut Simaksi.


Setelah menyelesaikan proses administrasi, Mereka berjalan lebih dalam memasuki Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, mengikuti jalur pendakian dengan kondisi medan jalan yang semakin banyak menanjak, tatapan mata Regen siap menjelajahi Panorama keindahan Alam berupa Air Terjun dan Kawah Ratu, meskipun di sepanjang jalan bibirnya masih terkatup diam membisu.


Ardhi memimpin perjalanan yang menguras staminanya, disebabkan umur yang tidak lagi muda membuat ia sering beristirahat dikala merasa lelah, melewati Lembah yang curam dan Tanjakan jalur pendakian berliku-liku yang sangat terjal, ia pun tampak kepayahan dengan hembusan napasnya tersengal-sengal.


Setelah beberapa jam kelelahan berjalan, dengan napas yang memburu Regen duduk bersandar pada tas ransel carriernya, mencoba mengatur pernapasan ia pun meneguk air mineral dalam kemasan botol plastik, sesekali matanya menatap Ardhi yang kelihatan hampir kehabisan energi, namun dari bibirnya Masih saja sibuk bercerita tentang tabir misteri.


"Kita dirikan tenda disini saja, untuk bermalam, ya Gen, nanti Kita lanjut mendaki sebelum fajar, agar saat di Puncak Manik, bisa melihat keindahan matahari terbit"  ucap Ardhi dengan semangat yang tersisa disela hela napasnya yang pendek, setelah meminum beberapa kali tegukan air mineral dalam kemasan botol plastik yang diberikan Regen.


Setelah Ardhi memastikan lokasi itu aman dan nyaman, ia pun meminta Regen membantunya mendirikan sebuah tenda, setelah tenda dipastikannya kokoh, barulah ia mengumpulkan dahan-dahan ranting kering yang dicari di sekitar lokasi tenda, untuk dipergunakannya sebagai api unggun, guna penghangat badan pada dinginnya malam.


Suasana malam hening, diiringi nyaring suara hewan berukuran kecil yang saling bersahutan, seolah menjadi irama musik bagi Orang yang mempunyai hobi Camping di dalam Hutan.


Regen tetap bersikap dingin, tidak dinampakan rasa takutnya karena harus bermalam dimalam Jumat, di sebuah tenda yang lokasinya tidak jauh dari tempat yang konon ceritanya, menjadi Lokasi Evakuasi Jenajah para Korban dari sebuah kecelakaan pesawat yang jatuh beberapa tahun yang lalu.


Sebelum membaringkan tubuh di dalam tenda, Ardhi sibuk memasak makanan untuk menjadi santapan malam bagi dirinya dan Regen.


Regen mencoba mengingat kembali peristiwa sebelum ia tertidur, setelah kenyang menyantap makanan yang dimasak Ardhi, sembari menghangatkan badan, Mereka makan bersama di dekat api unggun, kemudian masuk kedalam tenda dan membaringkan tubuh secara bersisian, kembali didengarnya cerita misteri yang didongengkan Ardhi sebelum ia pulas, tentang beberapa Orang Siswa Menengah Pertama yang ditemukan tewas di dalam tenda beberapa tahun lalu, yang kemungkinan di sebabkan oleh hipotermia atau keracunan gas belerang.


"Oh syukurlah, ketika tidur semalam saya tidak mengalami hipotermia, atau tidak menghirup udara yang terkontaminasi dengan gas belerang" gumam batin Regen dengan hembusan napas yang lega, sembari membantu Ardhi merapikan kembali barang-barang, kemudian bergegas untuk melanjutkan pendakian.


Mendaki tanjakan yang nyaris vertikal di hari yang masih gelap gulita bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan, akan tetapi, apabila perjuangan panjang yang melelahkan itu bisa berakhir sampai pada Puncak Tujuan, maka dapat dipastikan, suasana hati akan dirasuki perasaan haru yang membahagiakan.


Regen mengagumi momentum munculnya Lingkaran Besar Oranye Kemerahan yang perlahan menyembul di Ufuk Timur Puncak Manik, dengan kamera ia pun antusias mengabadikan proses perubahan warna Langit, Regen sangat menikmati sensasi berada di atas Awan, di bibirnya pun tersungging sebuah senyuman.


"Di hari Minggu, tanggal 23 September 2001,  adalah hari dimana Papa untuk pertama kalinya berkenalan dengan Mama, persis sama, dengan momen syahdu Langit Subuh ini Gen, perbedaannya di kala itu, suasana di sini sangat ramai sekali" suara Ardhi terdengar bergetar seperti Orang yang sedang kedinginan, atau mungkin perasaannya sedang diselubungi rasa sentimentil.


Sekujur badan dirasakannya pegal, belum lagi hawa dingin yang seperti menggigit tulang, hampir merasa kewalahan melalui rintangan di sepanjang jalur pendakian dengan kondisi medan jalan yang cukup menantang, seakan terbayar lunas ketika Regen berdiri menyambut pagi di atas Ketinggian 2211 mdpl.


"Ma..apa Mama bisa lihat Regen Maa, Regen memang gagal untuk Kuliah di Luar Negeri, tetapi Regen berhasil menjadi seorang Pendaki, Regen mampu menaklukkan segala ketakutan yang membuat Regen tidak percaya Diri, Mama tetap bangga sama Regen kan Ma ?", hati Regen bersuara lirih dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, memandang keseluruh barisan Gunung-Gunung di sekelilingnya yang terhampar berselimutkan kabut putih, seakan-akan dirasakannya sangat dekat dari tempatnya berdiri.


Regen membayangkan sang Mama melihatnya dari Langit, dibalik kumpulan Awan yang berarak seperti kepulan asap, ia merasa Ardhi juga memikirkan hal yang sama, dalam pengamatannya, selama perjalanan dari mengendarai mobil, berjalan melewati jalur pendakian yang menghabiskan waktu hampir seharian, bermalam di dalam tenda, sampai akhirnya Mereka berada di atas Puncak Manik, baru dilihatnya Ardhi terdiam berdiri mematung menatap Langit dengan wajah sendu, tidak terdengar lagi celoteh antusias story telling yang terkadang membuat bulu kuduk Regen merinding.


"Setelah ini, Kita turun ya Gen, semoga Papa tidak ketinggalan Sholat Jumat" kalimat yang diutarakan Ardhi terdengar lemas, memecah di keheningan pada saat Mereka berdua hanya duduk diam bersisian memandang indahnya Alam dari Puncak Gunung.


Menuruni Puncak Manik Ardhi kembali memimpin jalan, namun perjalanan menuju ke Kaki Gunung, tidak sehangat sewaktu pendakian, di sebabkan sikap Ardhi yang berubah menjadi pendiam, setelah beberapa jam berjalan melalui jalur jalan turun Gunung,  Regen meminta ijin untuk berhenti di tengah perjalanan, karena dirasa ia ingin buang air kecil.


"Kebelet pipis Papah" kalimat yang diucapkannya hampir membuatnya geli sendiri, karena mengingatkannya pada sebuah lirik lagu yang sering dinyanyikan pada saat ia kecil dulu.


"Tas ranselnya dilepas saja Gen, jangan jauh-jauh ya" suara Ardhi masih terdengar lemas.


Dan seperti biasa, Regen tidak menjawab perkataan dari sang Papa, hanya melepaskan rangkulan carrier dari punggungnya dan meletakkannya di dekat kaki Ardhi, kemudian melenggang pergi berlalu dari posisi Ardhi yang berdiri menunggu.


Regen melangkah dengan terburu-buru membelakangi posisi Ardhi yang berdiri menunggu, menuju ke sebuah pohon besar dengan melewati percabangan jalur sempit yang diapit oleh rimbunnya semak belukar, kontur tanah yang licin hampir membuat pijakan kakinya terpeleset jatuh, merasa beruntung ia tidak sampai terperosok terlalu jauh.


Mungkin hanya memerlukan waktu beberapa menit saja bagi Regen menyelesaikan proses pembuangan air seni dari tubuhnya, kemudian bergegas kembali ke tempat Ardhi berdiri semula, akan tetapi baru saja kakinya ingin melangkah meninggalkan pohon besar, dilihatnya seekor ular jatuh menjuntai ke dahan ranting tepat di atas kepalanya, dengan sikap sigap, berselubung perasaan terkejut bukan kepalang, Regen pun melangkah mundur perlahan-lahan.


Ia ke sisi jalur jalan lain untuk menghindari ular, tangan kanan yang ia usap-usapkan ke dadanya secara turun naik, sembari menarik dan menghembuskan napas panjang beberapa kali adalah usahanya untuk menenangkan diri kembali, setelah tenang, kemudian Regen kembali melangkah dengan santai, kepalanya sesekali menunduk, saat dirasanya sosok Ardhi sudah dekat terlihat, ia pun melangkahkan kakinya lebih cepat.


Namun keanehan mulai terjadi, ketika Regen menegakkan kepalanya untuk menatap punggung Ardhi yang sedang berdiri, tetapi pada kenyataan yang terlihat, dihadapannya hanya ada sebuah batang pohon yang bentuknya tidak begitu besar dan tidak pula begitu tinggi, tersentak bingung Regen segera memutar balikan badan, kedua matanya pun sibuk berkeliling, melihat ke segala penjuru arah mata angin, namun setelah beberapa menit dalam pencarian, tidak juga dilihat keberadaan sang Papa dalam jangkauan pandangannya.


"Astaga, apakah ini ilusi ?,  bukankah yang tadi saya lihat itu Papa yang berdiri membelakang?", ia memutuskan untuk melanjutkan terus melangkah.


"Rasanya tidak mungkin Papa memunggungi saya seperti itu, ketika terakhir saya menoleh kebelakang saat berjalan menuju ke pohon besar, wajah sendu Papa masih cukup jelas kelihatan, astaga, rupanya saya benar-benar mengalami ilusi?", langkah kaki Regen semakin cepat melaju, ia pun menjadi panik mengingat kembali peristiwa ilusi beberapa menit yang lalu.


"Atau, apakah jangan-jangan, sebenarnya sekarang saya sudah tersesat?" Regen mulai merasa kebingungan.


"Padahal saya hanya berjalan beberapa langkah lurus ke depan dari posisi Papa berdiri tadi, lalu ada beberapa cabang jalur setapak saat menuju ke pohon besar, setelah itu, kemudian saya..??" Regen mencoba berkonsentrasi untuk mengingat kembali, jalur jalan mana yang ia lalui sebelum berpisah dengan Ardhi.


Sayangnya semakin Regen berupaya fokus berpikir, untuk bisa menemukan jalan ke tempat Ardhi menunggu semula, maka semakin ia buta akan arah, Regen tidak tahu harus kemana melangkahkan kakinya, untuk bisa kembali menuju ke jalan yang akan mempertemukannya dengan sang Papa.


"Apakah saya harus berteriak memanggil Papa, agar Papa tahu kalau sekarang saya sedang tersesat, atau barangkali, saya menunggu saja, mungkin sebentar lagi akan terdengar suara Papa yang memangil-manggil nama saya?" ia terus berpikir dalam langkahnya yang semakin cepat.


"Papaa..Papa dimana Paa" akhirnya Regen berteriak keras juga, suara Ardhi yang diharapkan akan memanggil-manggil namanya, tidak kunjung didengar telinganya.


"Papaaa..papa dimana paaa" Regen berteriak lebih keras lagi dengan terus mengulang-ulanginya sampai beberapa kali, hembusan napasnya terdengar memburu, merasa sendirian di tengah suasana sepi tanpa suara jawaban, membuat rasa ketakutannya menjadi terpicu.


Sedikit putus asa Regen pun berhenti berteriak, ia terduduk bersandar pada sebatang pohon roboh yang melintang dihadapannya, dengan lemas dan perasaan yang teramat cemas, ia pun berusaha untuk mengatur napas, tenggorokannya dirasa mulai kering, ironisnya sama sekali ia tidak memiliki persediaan air, tiba-tiba pikiran Regen teringat pada sebuah kalimat terakhir yang terucap oleh Ardhi sewaktu berada di atas Puncak Manik, yang menyatakan bahwa sang Papa tidak ingin ketinggalan untuk Sholat Jumat.


"Apa mungkin, Papa saat ini sudah berada di dalam Masjid untuk melaksanakan Sholat Jumat?" dalam keadaaan penat, lelah dan bingung, ia pun hanya bisa duduk diam termenung.


"Ah, tetapi Papa tidak mungkin akan setega itu meninggalkan saya tersesat sendirian di Hutan Pegunungan seperti ini" dalam lamunannya Regen menepis sendiri prasangkanya.


Kejadian yang dialaminya membuat Regen tidak habis pikir, mengapa ia bisa sampai tersesat, padahal dalam ingatannya, ia pergi melangkah tidak begitu jauh dari posisi Ardhi berdiri, kepalanya sampai dirasa pusing, mencari jawaban sendiri tentang segala pertanyaan di dalam benak yang membingungkannya, sedangkan penyebab pasti secara logika yang diduga, akan selalu dihubungkannya dengan metafisika.


"Apakah saya telah melakukan suatu kesalahan selama dalam pendakian?" Regen mencoba mengingat kembali, kesalahan apa saja yang mungkin sudah diperbuat selama pendakian, yang mengakibatkan ia tersesat di dalam Hutan Pegunungan, sebagai hukuman dari Penguasa Alam Semesta yang harus diderita olehnya.


"Ah, saya merasa tidak pernah melakukan kesalahan-kesalahan apapun, baik dalam perbuatan maupun perkataan, seingat saya, tidak ada jejak sampah yang ditinggalkan selama dalam perjalanan mendaki, semua sampah-sampah saya masukan kembali ke dalam carrier seperti yang Papa katakan, saya pun tidak pernah Berkata-kata kotor, malahan lebih banyak diam selama pendakian" Regen kembali menyanggah, sebuah teori praduga yang diinvestigasikannya sendiri.


Dalam keadaan kebingungan, ditambah haus dahaga yang membuat kering tenggorokan, serta rasa lapar yang mulai dirasa perih di perut, Regen pun harus pula berusaha untuk melawan hawa teramat kantuk, semua kondisi itu seakan berpadu dalam pikirannya yang sedang kalut, ia yang tadinya duduk bersandar, secara perlahan membaringkan tubuhnya, angin sepoi-sepoi dirasa semakin meniupkan hawa berat pada kelopak matanya, rasa kantuk yang sedari tadi ditahan-tahan, lama-kelamaan ia pun terlelap pulas ketiduran.


Beberapa jam kemudian, Regen terbangun dalam kondisi yang masih bingung, ia pun bangkit dan duduk, lalu dengan kedua mata yang masih terpicing memperhatikan keadaan di sekeliling, betapa terkejutnya, ketika ia mengetahui kondisi hari yang sudah berganti malam.


Samar-samar di kejauhan ia seperti mendengar bunyi suara gamelan, suara gamelan yang didengar telinganya semakin lama semakin terasa dekat, degup irama pada jantungnya pun dirasakan berdetak lebih cepat, sejenak menelen ludah membasahi tenggorokan kering yang membuat lehernya seperti tercekat, dalam perasaan takut bukan main ia langsung berdiri kemudian berlari jauh secepat mungkin.


Dengan napas terengah-engah Regen menghentikan larinya, berusaha mencoba mengatur kembali napas, ia pun beristirahat sejenak, kedua kakinya dirasakan sangat lemas, hampir tidak mampu lagi untuk berpijak tegap.


"Tenang Regen..lo harus tenang!! yang tadi itu pasti cuma halusinasi!!" kalimat marah yang keluar dari mulut Regen adalah untuk menenangkan dirinya sendiri.


Batin Regen berkecamuk, dimana telinganya merasa mendengar suara bunyi gamelan sewaktu terbangun, di sisi lain ia berpikir, pendengarannya itu hanyalah sebuah halusinasi saja, kemungkinan disebabkan rasa takut yang berlebihan, mengingat di sepanjang perjalanan, ia banyak mendengar cerita tentang mitos di Gunung Salak yang banyak mengisahkan kisah-kisah misteri, salah satunya, cerita horor tentang suara gamelan tadi.


Regen berdiam diri memastikan suara gamelan sudah tidak lagi terdengar, lalu pandangan matanya tertuju pada cahaya redup yang berkelap-kelip bertebaran, tampak seperti kunang-kunang dalam jumlah yang cukup banyak, ia pun melangkahkan kaki untuk mendekat, sedikit bernapas lega karena ternyata cahaya itu berasal dari sebuah Perkampungan Warga, akan tetapi, baru saja kakinya akan melangkah lebih dekat bermaksud ingin bertanya, kepada dua Orang Laki-Laki yang sedang berdiri tegap di depan Gapura seperti Penjaga, hati kecilnya bertanya-tanya, "Mengapa pakaian Mereka seperti Prajurit Kerajaan dahulu kala"?.


Berubah pikiran ia pun segera membalikkan badan, tanpa menoleh lagi kebelakang Regen segera berlari lagi dengan sangat kencang.


Kedua kaki dirasa gemetaran, Regen berhenti dari larinya, tapi belum sempat ia mengatur kembali napasnya yang terengah-engah, ekor matanya menangkap bayangan, sekilas seperti Nenek tua bertubuh bungkuk dengan tangan kanannya yang memegang tongkat, si Nenek tua bungkuk bertongkat itu, perlahan-lahan sedang  berjalan ke arahnya dan semakin lama semakin terus mendekatinya, tanpa pikir panjang Regen kembali berlari lebih kencang, sampai akhirnya ia tersandung akar pohon dan terpelanting jatuh.


"Toloong!! hwaaaahh!!", Regen berteriak ketakutan sebelum ia jatuh tersungkur.


Suasana menjadi hening mencekam.


Kemudian Regen mendengar suara Seorang Laki-Laki bernyanyi dengan iringan petikan ukulele, menyanyikan sebuah lagu yang tidak asing didengar telinganya pada saat ia kecil dulu, lagu yang menceritakan tentang sebuah Nasihat untuk Anak-Anak yang harus berdoa sebelum tidur, tidak lupa mencuci kaki tangan, dan tidak lupa mendoakan Mama dan Papa Mereka.


Dengan seksama Regen mendengarkan lantunan suara nyanyian, suasana hati dan pikiran yang awalnya kalut karena dihantui ketakutan, seketika berubah menjadi perasaan yang senang bukan main, sebab dirinya mengetahui, ternyata didekatnya ada Pendaki lain, ia berusaha untuk menenangkan dirinya kembali dari rasa ketakutan yang membuat seluruh tubuhnya gemetaran, setelah menghela napas lega, ia memutuskan untuk kembali berjalan.


Melangkah perlahan-lahan Regen pun mendekati asal suara "Apakah jangan-jangan, dia juga salah satu Penunggu Hutan Gunung ini?" Regen menjadi ragu-ragu untuk mendekati Pemuda yang sedang asyik bernyanyi dengan ukulelenya.


Beberapa langkah dari hadapan Regen berdiri, nampak Seorang Pemuda yang sebaya dengannya, tengah duduk santai di atas kursi portable, yaitu sejenis kursi lipat yang biasa dibawa para Penggemar Camping, ia asik bernyanyi sendiri menggunakan ukulele, di depan tendanya ada nyala api unggun, dan di atas nyala api unggun itu tengah terpanggang seekor ayam dengan aroma harum mengunggah selera, tercium sedap bersamaan dengan oksigen yang dihirup indra penciuman Regen.

Regen terpaku, mengamati Sosok yang dianggapnya misterius dari balik pohon, banyak muncul pertanyaan di dalam benaknya, adakah Seorang Pendaki lain yang berani menikmati kesendirian di tengah Alam Hutan Pegunungan, seperti Seseorang yang berada dihadapannya sekarang?, terlihat santai memecah keheningan malam, sambil duduk bersandar malas di atas kursi lipat, ia mengangkat sebelah kaki, asik bernyanyi sendiri dengan alat musik petik ukulele, ditemani nyala terang api unggun, beberapa buah lagu pun terdengar merdu terlantun.


Ingin rasanya Regen segera menyapanya, ikut mendendangkan sebuah lagu bersama-sama, minum kopi susu dan saling bertukar cerita, menghabiskan malam mencekam ini dengan hangatnya obrolan yang seru, serta diselingi canda dan tawa, agar peristiwa nahas yang dialaminya seharian tadi, bisa berakhir menjadi sebuah cerita pengalaman yang indah untuk dikenang, sebagai hikmah yang mungkin dapat dipetiknya, yakni mendapatkan Seorang Kawan saat sedang tersesat di pendakian.


"Apakah ada sosok Hantu yang berwajah ganteng, dengan mengenakan celana jins coklat, sweater Hoodie hitam dan topi baseball polos hitam seperti Dia?"  tanya benak Regen.


"Ehem-ehem", tiba-tiba Orang yang sedang dipantau Regen mendehem.


"Astaga" ucap Regen terkejut seraya tangannya mengusap-usapkan dada, melihat penampakan Laki-Laki berpostur kurus tinggi yang sedari tadi diam-diam ia amati, ternyata sedang berdiri dihadapannya, tengah mengarahkan silau cahaya senter tepat ke wajahnya.


"Mending gabung aja yuk, dari pada sendirian disemak-semak gelap kayak gitu, ngeri nanti disergap macan kumbang" si Pendaki misterius berkata ramah dengan senyuman yang terlihat mengembang di wajahnya, mengajak Regen untuk ikut turut serta bergabung bersamanya.


Diibaratkan, seperti Orang yang sudah terlanjur ketahuan pada saat sedang bersembunyi dalam sebuah permainan petak umpet, mungkin seperti itu rasanya untuk menggambarkan suasana hati Regen, dengan wajah malu tertunduk ia pasrah mengikuti jejak langkah Seseorang dihadapannya, menuju ke depan tenda yang di terangi hangat cahaya api unggun, lalu kedua tangan Regen membuka lipatan pada kursi portable yang diberikan kepadanya, dengan wajah malu menunduk ia pun duduk.


"Kenalin, gua Malik, lu pasti yang namanya Regen, Regen Nara, iya kan?" ucap si Pendaki misterius disaat Mereka sudah duduk berhadapan di atas kursi lipat masing-masing.


"I iya bang, saya Regen Nara" jawab Regen dengan wajah bingung.


"Gua ketemu Bokap lu di Masjid sewaktu Sholat Jumat tadi, Bokap lu cerita, katanya, lu udah ninggalin dia sehabis buang air kecil, sampai dia capek Mengejar-ngejar sambil Memanggil-manggil, jangankan menyahut nengok pun lu enggak, parah sih, kalau tebakan gua, lu kebanyakan ngelamun, benar gak?, sore-sore itu, waktu yang terlarang untuk tidur, bisa ngebuat pikiran lu jadi sering linglung, bener kan?" Malik berceloteh sembari tangannya sibuk Membolak-balikan ayam yang sedang terpanggang di atas nyala api unggun.


Regen menjadi tambah bingung, bagaimana Malik bisa mengetahui jika ia tertidur pulas di sore tadi, "Apakah benar, tanpa sadar sebenarnya saya yang telah meninggalkan Papa?, apakah benar, karena melamun saya sampai tidak mendengar sewaktu Papa Memanggil-manggil nama saya?" benak Regen mempertanyakan segala keanehan yang dirasakan mengganjal dalam pemikirannya.


"Nih minum dulu, lu pasti kehausan" sambung Malik lagi, sembari memberikan botol tumbler yang berisikan air minumnya.


Regen dengan malu-malu mengambil botol tumbler yang diberikan Malik kepadanya, karena sangat kehausan ia segera meminumnya, beberapa kali tegukan air pun mengalir membasahi tenggorokannya yang kering, air yang terminum dirasakan sangat sejuk dan menyegarkan, mungkin jika bisa diibaratkan, kesegaran air minum dalam botol tumbler milik Malik, adalah air minum yang paling nikmat menyegarkan dari segala merk minuman air mineral yang pernah Regen minum selama ini.


"Jadi benar dugaan saya, Papa memang meninggalkan saya untuk bisa Sholat Jumat, tetapi, mengapa dalam cerita Malik malahan saya yang sudah meninggalkan Papa?, sungguh aneh untuk direnungkan, tapi ya sudahlah, justru perasaan saya sekarang jadi lega, yang terpenting keadaan Papa sekarang baik-baik saja dan telah sampai di Basecamp dengan selamat, karena saya khawatir, terakhir Papa terlihat sangat kelelahan sewaktu menuruni Puncak Manik" gumam batin Regen.


"Trimakasih banyak saya ucapkan, atas minuman ini Bang, beruntung sekali, saya bertemu dengan Abang, mohon maaf kalau saya tadi bersembunyi, mengamati Abang yang lagi asik bernyanyi, sebenarnya maksud saya tadi, hanyalah memastikan saja Bang, bukan bermaksud Memata-matai, sungguh Bang, percayalah" Regen bertutur kata dengan santun, bait demi bait yang terucap secara teratur, layaknya orang yang sedang berpantun, seraya tangan kanannya mengembalikan botol tumbler kepada Malik dengan menundukkan kepala dan bersikap agak kaku.


Secara spontan Malik mentertawakan gaya bicara Regen, setelah beberapa saat ia tampak berusaha menghentikan tawa dengan menghela napas, seraya menepuk bahu Regen untuk meminta maaf.


"Sory ya, bukan maksud gua ngetawain lu, tapi gua jadi keinget sewaktu disuruh Bersajak di depan Kelas, persis sama,  menunduk malu kayak lu gitu ihihi, santuy aja Gen, gak usah manggil gua Abang dan Berpantun segala, Kita ini seumuran, umur lu 18 tahun kan ?, sama, gua juga". 


Regen menggaruk-garukan kepalanya, lalu mentertawakan dirinya sendiri yang dikira Malik sedang Berpantun, sebuah keinginan yang sempat terbesit dalam benak Regen pun terjadi, dimana suasana obrolan seru di antara dirinya dan Malik yang diselingi canda dan tawa, sangat sesuai dengan apa yang diangan-angankannya.


Setelah perutnya merasa kenyang memakan ayam panggang yang dirasakan oleh lidah Regen adalah ayam panggang terlezat yang pernah ia makan, Regen pun larut dalam suasana penuh keakraban, sambil sesekali menyeruput kopi susu, ia ikut bersenandung menyanyikan lagu.


Tiba-tiba terdengar ada suara kucing mengeong "Meong meong", Regen dan Malik sama-sama terdiam, saling berpandangan satu sama lain, lalu kedua pasang mata mereka tertuju ke arah Semak-semak belukar di balik pohon tempat Regen bersembunyi sewaktu tadi, kemudian seekor kucing hitam terlihat keluar dari semak belukar, hampir saja Regen berteriak karena terkejut, melihat kucing hitam itu melompat seperti ingin menyerang Malik, namun Malik malah tertawa senang menyambut kedatangan si kucing hitam.


"Lupuuss, ahaha asik, mari kita berkelana pus, menikmati indahnya Alam di Taman Surga, sampai nanti ditiupkan Terompet Sangkakala".


"Aneh, bagaimana bisa kucing peliharaan yang bernama lupus itu menyusul Malik di Hutan Pegunungan seperti ini?, tanya benak Regen.


"Eh iya, Rumah lo dimana Lik? itu kucing peliharaan lo?, Regen bertanya menyelidik.


"Iya, ini kucing gua, panggilannya Lupus, nih kucing emang punya radar ajaib, makanya bisa nyusulin gua kesini, iya kan pus?" Malik berbicara sembari tangannya membelai lembut kepala lupus yang duduk manja di pangkuannya, dan lupus pun seperti mengerti, kemudian menjawab Malik dengan menyuarakan kata "Meoong".


"Oh iya, lu sendiri dari mana Gen?" Malik balik bertanya


"Gue dari Jaksel" jawab Regen, sambil memperhatikan tingkah lupus yang terlihat Mengelus-eluskan kepalanya dengan manja ke wajah Malik.


"Oh, lu Anak Jaksel, kalau gua dari Citayam" sahut Malik.


"Hah Citayam ?, Citayam itu bagian Daerah mana ya?" Regen kembali bertanya.


"Dekat Bojonggede" jawab Malik.


"Nah, kalau Bojonggede itu ada di bagian Daerah apa ?", Regen bertanya lagi dengan polosnya.


"Bujug buset, sombong amat..!, lu gak tau Citayam?, gak tau Bojonggede ? cari tau dulu gih di peta! cara bicara Malik seperti Orang kesal, membuat Regen tertawa sampai terpingkal, mendengar kalimat ikonik yang diucapkan Malik, dirasa mirip dengan salah satu tokoh yang memerankan sebuah cerita drama yang cukup melegenda di televisi.


Perbincangan malam itu harus berakhir karena rasa kantuk yang datang sudah menggelayut di pelupuk mata, Regen dan Malik tidur secara bersisian di dalam tenda, terlihat sorot mata lupus menatap tajam ke arah Regen, posisi lupus berada di dekat kepala Malik yang sedang tertidur meringkuk memunggungi Regen, kucing hitam yang memakai kalung dilehernya itu membuat Regen bertanya di dalam benaknya, "Mengapa kucing hitam ini, terus memandangi dengan tatapan tajam seperti itu kepada saya?, apa maksud dari perkataan Malik, bahwa ia akan berpetualang bersama lupus sampai ditiupkan Terompet Sangkakala?, masih berada di Dunia tetapi ingin berkelana menikmati Alam di Taman Surga, bukankah itu sangat aneh?".

Hampir saja Regen berteriak karena terkejut, disaat baru saja ia membalikkan tubuhnya ke sisi sebelah kanan, ternyata lupus berada di dekat wajahnya sedang memperhatikan dirinya dengan bentuk mata membundar disertai sorotan yang tajam.


"Meoong meoong", seolah-olah lupus mengatakan sesuatu kepada Regen, sebelum akhirnya kucing hitam itu keluar tenda dan meninggalkannya Seorang Diri.


"Apakah jangan-jangan, Malik juga bagian dari sebuah ilusi ataupun halusinasi saya saja?", pikirnya, dengan posisi tubuh yang masih berbaring.


"Sob,. sory banget nih, bukannya gua nyuruh lu buat bangun, tapi gua cuma mau pamit, gua permisi cabut duluan ya, tenda gua buat lu aja, oke Gen?", suara Malik terdengar lantang dari luar tenda.


"Hoooh syukurlah", Regen menghela napas lega, dengan wajah sumringah membangkitkan badan, lalu ia pun membuka tenda dengan lebar, kemudian dengan tubuh membungkuk Regen segera melangkah berjalan keluar.


Sosok Malik yang kelihatan sudah rapi, tengah berdiri dengan mengenakan kaos bola biru, celana pendek hitam yang terdapat banyak kantong di kedua sisi kiri dan kanannya, serta sandal yang biasa dipakai para Pendaki Gunung berwarna hitam sebagai alas kakinya, rambutnya kelihatan basah dengan wajah yang segar berseri, layaknya Orang yang habis mandi.


"Sory banget ya Lik, gue tidur semalam kayak Orang pingsan, bangun sampai kesiangan, gak bantuin lo berbenah bekas semalam Kita makan dan ngopi, gue jadi gak enak hati nih," ucap Regen tersenyum malu seraya menggaruk-garukan kepala.


"Santuy aja Gen,  maksud gua kalau lu masih mau lanjut tidur di dalam tenda, gak apa-apa Gen, gua cuma takut, nanti lu bingung nyari gua, kalau gua pergi tanpa pamit, makanya lu jadi gua bangunin, sory ya hehe, inget pesan gua, kalau mau kembali ke Basecamp, lu jalan mengikuti petunjuk arah saja, tinggal lurus sedikit lagi, nanti lu bakal ketemu sama beberapa Pendaki, hati-hati ya, jangan sampai kesasar lagi," Malik menjawab dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, seakan-akan dia Berkata-kata sambil menyengir seperti kuda.


Regen memperhatikan tubuh Malik yang melangkah memunggunginya untuk meraih tas ransel yang berada di dekat tenda, sempat ia membaca nama yang tertera pada punggung kaos bola biru yang dikenakan Malik, "Malik Bhumi" dan angka "19", di bawah namanya.


Namun yang menjadi pusat perhatian Regen bukanlah sebuah nama, Malik Bhumi ataupun nomor punggung 19 yang tertera pada kaos bola yang dikenakan Malik, melainkan sebuah tas ransel yang dipakai oleh Malik di punggungnya, menurut pemikiran Regen, tas ransel itu berukuran jauh lebih kecil dari pada carrier yang digunakan olehnya juga Ardhi, sedangkan kursi lipat Malik berukuran cukup besar dan ia membawanya sebanyak 2 buah, "Bagaimana bisa Malik memasukkan kursi lipat-kursi lipat, beserta tenda kedalam tas ransel sekecil itu?" tanya benak Regen.


"Malik, gue mau ikut petualangan lo, boleh kan?, gue mohon Lik, boleh ya?", sikap Regen terlihat sedikit memelas kepada Malik, ia berbicara sembari kedua tangannya dikatupkan di depan dada.


Betapa senangnya Regen, ketika Malik menganggukkan kepalanya dengan ciri khas senyuman yang mengembang di wajahnya, sebagai tanda ia menyetujui permintaan Regen yang ingin ikut turut serta dalam perjalanannya.


"Yes !, thanks ya Kawan, oke sebentar, biar gue bereskan dulu tendanya", ujar Regen dengan semangat.


"Mending lu sarapan aja, sory ya tadi gua sarapan sendirian hehe, habisnya nunggu lu bangun lama banget, perut gua sampai gak nahan udah bunyi keroncongan", tangan Malik mengambil sebuah pisang, roti, serta susu kotak dari dalam tas ranselnya, kemudian memberikannya kepada Regen.


Regen segera menuruti apa yang dikatakan oleh Malik, setelah menerima pemberian dari Malik, kemudian ia duduk bersila di atas tanah, memakan pisang, roti dan meminum susu kotak untuk mengisi perutnya, di dalam benaknya, Regen merencanakan untuk membantu Malik merapikan tenda setelah ia selesai makan nanti, namun alangkah terkejutnya, ketika baru saja akan berdiri, bangunan tenda sudah tidak terlihat lagi, "Mengapa Malik sangat cepat merapikan tenda seorang diri?, bukankah mustahil tenda camping itu bisa dimasukkan kedalam tas ranselnya?", gumam benak Regen mengganjal.


"Malik, gue curiga, lu punya kekuatan Super ya?" Regen bertanya kepada Malik yang sedang berdiri santai.


"Hahaha,.. ngaco, lu pikir gua Naruto?", Malik hanya tertawa menanggapi Regen yang curiga dirinya mempunyai kekuatan Super.


"Udah siap, Gen?, Kita lanjut jalan sekarang?" sambung Malik.


Tangan kanan Regen memberi hormat kepada Malik, kemudian dengan sedikit membungkukkan badan mempersilakan Malik untuk memimpin jalan di depan, walaupun di dalam benaknya, Regen masih terus bertanya tentang kekuatan Super apa yang dimiliki Malik.


Regen berjalan beberapa langkah di belakang  Malik, sedangkan lupus berada di depan Malik dengan gerakan berlari sambil sesekali melompat jauh, seakan-akan lupus terlihat seperti memimpin perjalanan Mereka, ke suatu tempat yang Regen sendiri belum mengetahui ia akan dibawa kemana, di mata Regen, lupus sangat menyerupai seekor macan kumbang, sayangnya lupus hanyalah seekor kucing yang tentunya berukuran jauh lebih kecil, sesekali mata Regen pun memperhatikan tas ransel di punggung Malik yang masih dirasa sangat mengganjal di dalam pikirannya, baru saja beberapa meter berjalan, lupus berhenti di depan sebuah Kolam.


"Setelah melewati Goa, Kita bisa menuju ke Taman Surga" seloroh Malik sambil tangan kanannya menunjuk kesebuah Batu Besar yang bersandar pada Tebing Karang di pinggir Kolam.


"Serius ??, lo yakin Goa itu aman?" tanya Regen ragu.


"Perjalanan ini akan sangat aman, selagi Kita membawa cukup perbekalan" jawab Malik percaya Diri.


Kemudian Malik melepaskan tas ransel dari punggungnya, lalu mengeluarkan sebuah perahu karet, alat pompa, senter, dayung plastik, 2 rompi pelampung dan 2 helm safety, yang kesemuanya itu lagi-lagi membuat Regen meyakini, bahwa tas ransel Malik bukanlah tas ransel biasa, melainkan sebuah tas ransel ajaib, seperti halnya Kantong Doraemon, dengan wajah heran, Regen memperhatikan gerakan Malik yang dengan cekatan memompa perahu karet sendirian, perahu karet pun selesai terbentuk dalam waktu yang sangat cepat.


"Di perahu karet ini lu duduk di belakang gua, walaupun di depan helm ada senter kecilnya, tapi Kita pasti butuh cahaya senter yang lebih besar, nah nanti, gua minta tolong, lu pegang senter selagi gua mendayung, oke Gen ?" Malik memberi komando, seraya memberikan helm, pelampung dan senter kepada Regen.


Malik melangkah lebih dulu berjalan ke dalam Kolam dengan kedalaman air setinggi lututnya, dibantu Regen membawa perahu karet dengan cara di junjung di atas kepala keduanya, sementara lupus berada di atasnya, Mereka menuju ke mulut Goa yang berada di balik Batu Besar, Batu itu seakan-akan menempel pada Dinding Tebing, secara bergantian dengan tubuh menyamping, Mereka berhasil memasuki Goa walaupun dengan cukup sulit dikarenakan mulut Goa yang terbilang sempit, kemudian Mereka meletakan perahu karet di atas permukaan air, dikarenakan suasana Goa yang sangat gelap, memicu jantung Regen untuk kembali berdetak cepat.


"Saat ini, Kita sudah meninggalkan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, karena Kita akan melewati jalan rahasia menuju ke Taman Surga, asal lu tau Gen, Goa ini tidak ada yang tau selain Kita, lu boleh liat ke depan, kanan dan kiri, tapi sekali pun, lu jangan pernah melihat kebelakang, kalau lu ragu, sebaiknya Kita berpisah di sini saja, gimana Gen?" nada bicara Malik terdengar lantang dan tegas, dengan mimik wajah yang serius.


Leher Regen seperti tercekat, ia menelan ludahnya, kemudian menghela napas panjang untuk meyakinkan dirinya sendiri "Malik adalah Seorang Pemberani, dia juga punya kekuatan Super, punya tas ransel ajaib seperti kantong Doraemon, saya yakin akan aman berpetualang bersamanya, mungkin perjalanan ini bisa dijadikan sebuah terapi untuk bisa menyembuhkan perasaan takut berlebihan saya, lagi pula saya sangat penasaran, seperti apa Taman Surga itu ? apa yang ingin dicari Malik ke tempat yang ingin ditujunya bersama lupus?, dengan mengikuti secarik kertas berisikan sebuah Peta sebagai petunjuknya?, akan tetapi, bagaimana dengan Papa nanti ?, bukankah seharusnya saya menemui Papa dahulu untuk pamit?", keraguan Regen menggema di dalam kepalanya.


"Regeen, kalau lu masih ragu-ragu, sebaiknya Kita langsung berpisah disini" suara Malik terdengar lebih tegas dengan intonasi yang meninggi, disertai raut wajahnya yang terlihat lebih serius lagi.


"Meoong, meoong" lupus seperti ikut pula mengomel kepada Regen yang kedapatan sedang melihat kebelakang sambil melamun.


"Ok, oke Lik, i, iya, gue ngerti, so, sory, gue janji, gue gak akan lihat kebelakang, ataupun melamun lagi" Regen Terbata-bata.


 Regen seperti mendengar seseorang memanggil-manggil namanya dari luar Goa "Regeenn,..Regen Naraaa,..dimana kamu Naak?" 


"Astaga, bukankah itu suara Papa ?, ah tidak, bukan, itu pasti hanya ilusi" gumam batin Regen.


"Sudah siap Gen ?, nyalakan senter sekarang, arahkan cahayanya ke depan" suara Malik lantang menggema.


Keadaan Goa yang tadinya temaram, menjadi benderang dengan bantuan cahaya senter yang dipegang oleh Regen, memperlihatkan dengan jelas ornamen-ornamen Batu Kristal, Stalaktit dan Stalakmit dengan berbagai bentuknya yang indah dan juga unik, diantara rasa takut dan takjub, nyali Regen siap menyusuri Sungai yang berada di dalam Perut Bumi, bersama Malik yang dengan semangat mendayung sembari bernyanyi.


Regen berdecak kagum melihat keindahan di sepanjang Goa, terdapat ruangan di bagian tepi Sungai yang sangat luas, sampai akhirnya, ia melihat sinar cahaya yang semakin lama semakin terang di kejauhan kemudian tangan Malik menunjuk ke depan.


"Gen lihat, cahaya Taman Surga, sudah dekat" suara Malik terdengar senang bersemangat.


Mata Regen melihat ke atas, baru disadarinya kalau ternyata cahaya Taman Surga yang dimaksud oleh Malik adalah sinar cahaya mentari yang menembus masuk kedalam bagian Goa yang tidak beratap, memperlihatkan sebuah lubang besar menganga di atas ketinggian kurang lebih 1000 meter dari dalam Goa.


Malik menepikan perahu karet ke pinggir Sungai, ia memberi komando agar Regen segera turun dari perahu karet dengan cara melompat ke bebatuan besar di dekatnya seperti yang dicontohkan lupus.


"Hoop", Regen pun berhasil melompat pada hitungan ketiga yang disyaratkan Malik.


"Setelah ini Kita akan memanjat menuju Puncak Tebing Karang itu, Gen".


Tebing Karang setinggi hampir kurang lebih 1000 meter terlihat menjulang dengan kokohnya, mengharuskan Regen untuk mendongakkan kepalanya, "Hoohf, oke, gue siap".


Setelah Mereka siap dengan peralatan Panjat Tebing, Malik memasukkan sebuah alat yang mirip pasak ke dalam celah-celah Bebatuan Karang, guna menahan berat beban badan sewaktu ia sedang melakukan Pemanjatan, sehingga dia terlihat begitu mudah untuk menaikinya tahap demi tahap, sampai akhirnya ia pun berhasil mencapai ke bagian Atas Puncak, sementara lupus berada di punggung Malik dengan berpegangan pada tas ranselnya, disusuli Regen yang dengan hati-hati memanjat ke Puncak Tebing dengan posisi kepala nya di dekat kaki Malik.


"Yeaay Kita berhasiiil" teriak senang Regen.


"Coba lihat pemandangannya, keren banget ya Gen, coba hirup deh harum udaranya, menenangkan pikiran bukan?, hmmm" Malik pun menghirup napas dalam-dalam, dengan merentangkan kedua tangan dan memejamkan mata, berdiri di dataran tinggi yang begitu luas dan indahnya.


Sejauh mata memandang, Regen melihat hamparan Savana rerumputan berwarna ungu, karena dataran luas di hadapannya dipenuhi oleh jenis tumbuhan Bunga lavender yang anggun, seakan-akan tertata begitu rapi pada setiap barisan lajur-lajur dengan pola yang teratur, mengeluarkan semerbak aroma harum, ketika ia menghirup udara, baunya pun dirasakan menenangkan pikirannya, "ini kah, Taman Surga yang dimaksud Malik?" batin Regen bertanya.


"Apakah perjalanan Kita sudah sampai, Lik ?" tanya Regen kepada Malik yang sedang duduk santai di atas Bukit. 


"Belum, Kita belum sampai, perjalanan ini baru saja dimulai" tutur Malik dengan sorot mata terpukau memandangi hamparan Savana Ungu yang begitu luas dan lebih menakjubkan jika dilihat dari atas Bukit, tempat dimana dirinya duduk bersisian dengan lupus dan Regen.


Setelah beberapa waktu terdiam menikmati keindahan Alam, Malik mengeluarkan bola kecil dari dalam tas ranselnya, lalu melemparkannya jauh ke depan sehingga bola kecil itu menggelinding menuruni Bukit, "Kejar pus, ayo Kita main bola" perintah Malik kepada lupus.


Regen berjalan santai sambil tersenyum, melihat tingkah lucu Malik dan lupus berlarian jauh di depannya mengejar-ngejar bola, setelah bola di dapat, lupus segera menendang bola dengan kaki depannya, terdengar suara gelak tawa riang Malik ketika berhasil mendapatkan bola yang di tendang oleh lupus, kemudian Malik kembali menendang bola lebih jauh lagi, sehingga membuat lupus tidak berhenti mengejar-ngejar bola ke sana kemari.


"Bukankah Malik bilang, tempat ini tidak ada yang mengetahui selain dirinya?, tetapi mengapa terlihat begitu banyak para Pendaki di sini ?" gumam batin Regen, ketika melihat banyaknya para Pendaki Laki-Laki maupun Perempuan yang sebaya dengannya, tengah berjalan beriringan di setiap sela lajur-lajur barisan tanaman Bunga lavender.


Regen merasa keheranan, mengapa ia tidak merasa kelelahan meskipun telah berjalan kaki selama seharian, menyusuri luasnya Savana Ungu yang seakan tidak terlihat dimana ujungnya, ketika hari memasuki senja, Malik memasang rendah tali hammock diantara dua Pohon bidara yang tidak berduri dengan jarak kurang lebih tiga meter, setelah selesai terpasang layaknya sebuah ayunan, kemudian Regen ikut berbaring di sebelah Malik di atas hammock berjaring yang mempunyai ukuran cukup lebar dan besar, saat malam menjelang, Mereka tidur terlentang memandang kagum ribuan bintang-bintang yang bertaburan, cahayanya terlihat indah berkelap-kelip di atas Langit, sampai rasa kantuknya datang mata Regen pun pulas terpejam.


"Huwastagaa, Malik, lo kenapaaa??" Regen terkejut, tatkala membuka mata mendapati sosok Malik yang sedang duduk menatapnya, ia beranggapan wajah Malik telah jauh berubah.


"Eet kenapa dah muka gua, kok lu kaget gitu ??", tanya Pemuda yang memiliki tampang lucu, kepada Regen.


Regen segera bangkit dari tidurnya, duduk saling berhadapan memandangi wajah Pemuda yang sebaya dengannya yang terlihat sedang mengelus-elus lembut kepala si lupus. 


"Jangan melamun saja Kawan, ada apa sih, gerangan ?, memandangi ku terheran-heran hehehe, kenalin nama Gua Ibrohim, panggil aja Gua Oim, nama lu Regen kan, ayo lah buruan, Kita ke Telaga nyok, Malik udah berangkat duluan ke sonoh, katanya dia udah gak sabar, mau main air di Telaga, nyok", si pemuda yang mengaku bernama Oim berbicara sambil menyengir dengan logat Betawi.


"Hooh, Astagaaa, gue kira lu Malik" ucap Regen merasa lega.


"Bisa aja lu Gen, muka gua disamain sama Malik, berasa ganteng banget gua jadinya, ahaaay deeh hehe," Oim tersipu malu.


"Setelah ini Kita akan menyusuri Lembah, Gen" Oim yang tidak membawa tas ransel berkata sembari tangan kanannya menunjuk ke sebuah Lembah di hadapannya.


Regen mengikuti jejak Oim dan lupus menuju ke sebuah Telaga yang ada di bentangan Lembah, melihat lupus dan Oim meminum air di Telaga, membuat Regen melakukan hal yang serupa, dengan kedua tangannya ia pun menciduk air yang sangat jernih, setelah meminumnya, Regen merasakan kesegaran rasa yang sama persis dengan air yang diminumnya pada botol tumbler milik Malik.


Setelah puas bermain di Telaga, Malik, Regen, Oim dan lupus pun melanjutkan perjalanan di keesokan hari dan Hari-hari berikutnya, menuju ke berbagai Tempat yang menyuguhkan Keindahan-keindahan Alam lainnya, ke sebuah Destinasi Panorama yang akan memanjakan pandangan mata Mereka.


Dari menyusuri Pegunungan Bebatuan yang berwarna-warni, memasuki Hutan Sabana yang terdapat banyak gerombolan hewan jinak berkaki empat sedang memakan rerumputan, bermain di Air Terjun dengan curahan air yang sangat tinggi, dimana airnya terasa hangat dan berwarna jernih sekali, sampai akhirnya, Mereka tiba di suatu Taman yang sangat luas, ditumbuhi  Bunga- bunga Keabadian beragam bentuk rupa dan beraneka jenis warna, kursi-kursi empuk berada di sekelilingnya, kupu-kupu dan love bird saling terbang rendah Kesana kemari, di Atas Langit Taman pun berhiaskan lengkungan Pelangi.


"Sungguh keindahan yang luar biasa, ini kah Taman Surga itu" tanya benak Regen.


Ketika Mereka sedang asik melempar canda garing yang menggelitik, suara tawa Mereka pun terdengar sampai mengikik, tiba-tiba Malik dipanggil oleh Seorang Gadis cantik, setelah Malik menghampiri, si Gadis memperkenalkan diri bernama Ririn dan si Ririn bermaksud menitipkan surat kecil untuk diberikan kepada Regen.


Sangat disayangkan, setelah membaca surat dari Ririn, Regen terpaksa harus kembali pulang, ia tersadar tidak membawa tas ransel yang berisikan makanan ataupun baju ganti, ia pun tidak mau jika nantinya di anggap seperti benalu, meskipun Malik tidak pernah menganggapnya seperti itu, Regen menjadi tidak habis pikir, "Siapa Ririn sebenarnya ?", sedangkan wajah cantik Ririn seperti tidak asing baginya.


"Trimakasih banyak ya Lik, pengalaman petualangan ini akan gue kenang selalu" tutur Regen dengan rasa haru.


"Kalau disaat hujan deras nanti lu berjumpa sama Pelangi, salam ya, tolong bilang ke Pelangi, jagain Ibu Pertiwi" wajah Malik berubah sendu.


Regen berpikir sejenak, "Apa sih maksudnya ?, saya disuruhnya menjaga Negara Indonesia dari derasnya hujan ?, Ah yang benar saja, saya ini bukan Pawang".


"Lu sendiri, sampai kapan berpetualang Lik" tanya Regen mengalihkan.


"Liburan gua kali ini, panjaaaaaang sekalii" Malik tersenyum lebar.


"Lu gak takut, jika Orang Tua lo merasa khawatir menunggu lo pulang ke Rumah ?" tanya Regen lagi.


Malik terdiam, lalu menghela napas panjang dan memperlihatkan kembali raut wajah sendunya, kemudian setelah itu Mereka pun berpelukan dan saling melambaikan tangan perpisahan.


"Ah Papa, seandainya saja Papa tidak meminta saya untuk melepaskan tas ransel sewaktu kebelet pipis, mungkin saya belum mau pulang Pa, perjalanan petualangan ini begitu seru dan membahagiakan, sayangnya ada Seorang Gadis cantik yang bernama Ririn, dia mengkritik saya karena tidak membawa bekal apapun, sehingga saya tidak bisa melanjutkan perjalanan bersama Malik, disuruhnya saya mengasihani Papa yang sedang cemas sendirian, menangis dan berdoa supaya saya cepat pulang ke Rumah, Ririn itu siapa sih Pah ?, dia perhatian sekali sama Papa, dia itu Gadis cantik yang suka sekali mengkritik, huufh menyebalkan". gumam Regen di sepanjang jalan.

Regen tidak pernah berhenti berupaya menemukan ingatannya yang hilang, mengapa ia terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar Rumah Sakit 6 Bulan yang lalu, sehingga menyebabkan Ardhi harus menjual Rumah, mobil dan asetnya yang lain demi bisa membayar biaya perawatannya, selama Koma 6 bulan lamanya, sedangkan Ardhi yang telah kehilangan Pekerjaannya pun, tidak pernah menjawab dengan gamblang pertanyaan yang di ajukan Regen kepadanya.


"Kenapa saya bisa koma selama itu Pah ?, apa yang sebenarnya terjadi kepada saya ?, kenapa saya tidak ingat apa-apa ?".


Regen tidak berani untuk menanyakan pertanyaan yang sama kembali kepada Ardi, semenjak melihat Ardhi yang tampak syok di kala itu.


"Maafkan Papa, Regen..., semuanya terjadi, karena kesalahan Papa, Papa sangat menyesal, dan merasa bersalah sekali, seandainya saja, Papa tidak mengajak kamu, untuk Mendaki, tentunya kamu tidak mengalami, Kecelakaan ini", jawaban terbata-bata dengan raut kesedihan yang mendalam sangat menggambarkan jiwa Ardhi yang terguncang dikarenakan takut Kehilangan.


Meskipun di saat mencoba mengingat sendirian memori yang hilang, Regen harus merasakan sakit hebat yang mendera di kepala, bagaikan Seseorang yang sedang menyusun permainan puzzle, mungkin seperti itu pula lah, Regen berusaha sabar, merangkai kepingan demi kepingan ingatan yang satu persatu perlahan muncul dalam benaknya.


"Bujug buset, sombong amat...!, lu gak tau Citayam ?, gak tau Bojonggede ?, cari tau dulu gih, di peta!", kalimat itu tiba-tiba terngiang dalam ingatan, ketika Regen sedang melakukan gerakan sembahyang.


"Astaga saya baru ingat, Rumahnya Malik berada di Citayam, siapa yang menyangka, jika ternyata sekarang Kita berada di bagian Bumi yang sama, Lik" selesai sholat Subuh, Regen tersenyum sendiri mengenang ucapan kesal Malik, tatkala Mereka saling menanyakan Alamat Rumah, dimana ia tidak mengetahui Citayam yang merupakan salah satu Daerah Pinggiran, di luar ujungnya Selatan Kota Jakarta.


Sejak September 2022, Regen dan Ardhi pindah Tempat Tinggal, dari Kota Jakarta Selatan ke Kabupaten Bogor, Regen dan Ardhi menempati sebuah Rumah berlantai dua di sebuah Kompleks Perumahan yang posisinya berada di depan jalan yang cukup lebar, dimana Mereka menggunakan lantai atas sebagai Tempat Tinggal, dan lantai bawahnya digunakan untuk Kedai Kopi Kekinian, sebagai Usaha kecil yang dijalankan Ardhi dengan bantuan Regen.


Ketika waktu menunjukkan pukul enam pagi Regen yang diterima di sebuah Universitas Ternama di Kota Depok, berangkat menuju Stasiun Citayam dengan menggoes sepedanya, setelah sampai di Stasiun, ia pun menitipkan sepedanya pada tempat Penitipan, kemudian berbaris pada antrian Penumpang yang cukup ramai, menunggu kereta api datang yang selalu padat penuh Muatan, di setiap hari Kerja pada waktu pagi dan senja.


Di dalam kereta api, Regen berdiri di belakang Seorang Gadis yang memakai kemeja bertuliskan "Fire Safety Engineering" pada bagian punggung atasnya, namun bukan tulisan pada punggung atas kemeja itu yang membuat Regen keras berpikir, dikarenakan tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.


"Aroma harum pakaiannya Gadis ini ?, rasanya saya pernah mencium keharuman yang sama seperti ini, tapi entah dimana ?", Kepala Regen menjadi sakit, tanpa sadar ia  terjatuh dengan kepalanya bertumpu pada bahu Gadis yang berada di depannya.


Si Gadis memutar balikan badannya, memerhatikan Regen yang tampak kesakitan.


"Astaga maaf, maafkan saya ya, kepala saya tiba-tiba sakit" Regen meminta maaf karena takut disangka melakukan modus pelecehan.


"Bawa obat sakit kepala ?" sang Gadis balik bertanya.


Regen menggelengkan kepala dengan lemas, si Gadis pun mengambil obat sakit kepala dan botol tumbler dari dalam tasnya, kemudian di berikan kepada Regen.


"Nih, minum obat sakit kepala punya ku dulu aja", ucapnya.


"Tidak apa, jika saya minum di botol tumbler milik kamu ?" tanya Regen ragu


"Gak apa-apa, silahkan" jawab si Gadis yang memakai masker medis berwarna hitam"


"Bismillahirrahmanirrahim" mulut Regen berkomat kamit membaca Doa, kemudian obat sakit kepala pun diminum olehnya, setelah memastikan tidak ada Petugas Keamanan yang melihatnya.


"Astaga, ini seperti botol tumbler milik Malik, sekarang saya ingat, aroma harum Bunga lavender sewaktu saya berada di Savana Ungu" gumam batin Regen.


Sempat Regen membaca nama yang tertera di bagian kanan atas kemeja si Gadis,"Malika Pelangi", dan di bawah nama terdapat sederet beberapa angka yang sepertinya Nomor Induk Kemahasiswaan, sementara di atas kantong saku pada bagian kiri atas kemejanya, tampak sebuah logo Universitas Ternama yang berada di JakartaTimur.


Setelah mengembalikan botol tumbler, sayangnya Regen harus segera turun kereta, karena kereta telah sampai di Stasiun Universitas Indonesia, ketika kakinya sudah berpijak pada lantai peron, ia menghadapkan badannya ke kereta yang pintunya masih terbuka.


"Trimakasih banyak ya" ucap Regen, agak sedikit berteriak dengan senyuman yang mengembang sembari melambaikan tangan.


Sang Gadis bernama Malika Pelangi yang berdiri di dekat pintu kereta, merespon dengan menurunkan masker ke bawah dagu, memperlihatkan wajahnya yang cantik sambil tersenyum manis seraya berteriak "iya, sama-sama".


Pintu kereta api pun tertutup, kemudian kereta kembali berjalan dengan bunyinya yang keras, namun Regen masih belum mau bergegas, ia masih berdiri di atas peron, melihat kereta api berlalu dari hadapannya. "Astaga, jantung saya berdetak cepat sekali, padahal saat ini tidak sedang dalam ketakutan, Alhamdulillah, sudah hampir enam bulan belakangan ini rasa ketakutan berlebihan saya lama menghilang, lantas, apa arti debaran kencang pada jantung saya sekarang ?, ah, kenapa tiba-tiba perasaan saya merasa senang, bukan kepalang ?". Regen pun melangkahkan kakinya sambil tersenyum simpul sendiri.


Sekembali dari Kampus pada pukul 14.30, sebelum pulang ke Rumah, Regen berencana dengan menggoes sepedanya mencari Rumah Malik, keluar dari area Stasiun Citayam, ia pun keluar masuk jalan lebar di Kompleks Perumahan, serta keluar masuk Gang kecil di Perkampungan, sungguh tidak mudah mencari Alamat Teman yang tidak lengkap, hanya mereka-reka mengikuti Nalurinya saja.


"Saya ingin sekali berjumpa dengan Malik, menanyakan tentang kabarnya, tentang apa saja yang di carinya dalam liburannya yang panjang waktu itu, apakah jangan-jangan, sebenarnya dia sedang mencari Harta Karun?, apakah dia berhasil sampai pada Tujuannya ?" Regen menyimpan banyak pertanyaan di dalam batin untuk diajukan kepada Malik.


Menghela napas panjang, Regen memutuskan untuk menyudahi pencarian Rumah Malik, dikarenakan waktu pada jam tangannya sudah menunjukkan jam 5 petang, teringat pula dia belum menunaikan sholat Ashar, namun tiba-tiba saja hujan deras turun, tatkala ia menyadari telah memasuki jalan buntu di sebuah Gang Perkampungan, terpaksa Regen berdiri di teras Rumah yang tidak berpagar untuk berteduh, di teras Rumah yang sederhana itu tampak terhampar tikar-tikar.


"Punten Ibu, saya permisi untuk numpang berteduh, boleh kah?" Regen meminta ijin si Empunya Rumah yang sedang membereskan piring-piring yang tersaji di atas tikar-tikar yang terhampar, pada teras Rumahnya.


"Eh, ada Tamu Kebendilan, silahkan duduk saja Nak" jawab si Ibu dengan ramah.


Baru saja Regen duduk bersila di atas tikar, hujan pun berhenti dan Langit sore kembali cerah lagi, tidak mau membuang waktu, kemudian Regen bangkit untuk pamit, namun si Ibu malah memberinya sebuah bungkusan plastik.


"Nak ganteng, ini ada sisa besek Tahlilan setahunnya Anak Laki-Laki Ibu tadi, rejeki jangan ditolak, diterima ya, anggap saja oleh-oleh Kebendilan", si Ibu berbicara dengan senyuman.


Regen menerima bungkusan dengan mengucapkan terimakasih kepada si Ibu, lalu ia pun kembali Pulang dengan menggoes kencang sepedanya.


"Hujan yang aneh, seperti hanya menggiring saya saja untuk mendapatkan sebuah bungkusan, oleh-oleh Kebendilan ?, apa itu ?, sebuah istilah yang terdengar lucu", celoteh dalam benaknya seraya menahan tawa.


Sesampainya di Rumah, Regen yang baru saja selesai menunaikan sholat Ashar, Masih mengenakan baju Koko, kopiah dan sarung,  tidak sabar membuka bungkusan, "Oleh-oleh Kebendilan" gumamnya sambil tertawa kecil.


Di dalam bungkusan, terdapat sebuah wadah yang menyerupai bakul nasi kecil yang bernama Besek, di dalam besek itu berisikan makanan yang terdiri dari nasi, ayam goreng, lalapan, sambal, bihun dan telur, serta sebuah pisang dan jeruk, juga beberapa jenis kue tradisional, lalu tangan Regen mengambil sebuah Buku Yasin yang terselip di dalamnya, kemudian mengeluarkan Buku Yasin dari kemasan plastik bening.


Regen terkejut tidak percaya, ketika jemarinya menyibak halaman ketiga pada Buku Yasin itu, "Inalilahi Malik ?, astagaaa, apakah ini benar-benar Malik Bhumi ?, seorang Kawan yang barusan tadi saya ingin cari ?,  Regen termenung bingung, memandang Foto Malik terpampang disana dengan tulisan berikut dibawah fotonya. "Inalilahi Wa Innailaihi Rajiun, Malik Bhumi, Lahir 19 Juni 2003, Wafat 23 September 2021".


Kemudian ada lembaran di sebelahnya yang bertuliskan untaian kalimat Doa-doa, diakhiri dengan sederet nama Keluarga yang mengenangnya, "Jalaluddin Pasha (Ayah), Pertiwi Rahman (Ibu), Malika Pelangi (Saudara perempuan)".


"Bagaimana mungkin bisa ?, bukankah saya pergi mendaki di hari Kamis pagi 23 September 2021 bersama Papa, lalu berjumpa dengan Malik di keesokan malam harinya, bahkan berpetualang bersamanya selama enam hari setelahnya, astaga yang benar saja, apakah lagi-lagi saya bermimpi dan berhalusinasi ?, ataukah mungkin, saya mengidap gejala Skizofrenia ?".

Disaat Regen telah menceritakan kepada Ardhi tentang kisahnya bersama Malik, Ardhi akhirnya memberikan penjelasanya, "Setelah kamu selesai pipis waktu itu, Papa melihat kamu aneh Gen, tiba-tiba saja kamu memutar balikkan badan ketika sedang berjalan menuju Papa, kamu yang berjalan sangat cepat meninggalkan Papa kala itu, tidak mau menyahut apalagi menengok saat Papa mengejar dan memanggil, setelah itu Papa kehilangan kamu, sampai akhirnya pada malam hari kamu ditemukan tidak sadarkan Diri oleh Regu Penyelamat, sepertinya kamu habis terjatuh, karena menurut penuturan kesaksian Seseorang yang melihat, sebelum terpelanting jatuh kamu berlari sangat kencang tak tentu arah, segera Papa menyetir mobil, membawa kamu yang tidak sadarkan Diri meninggalkan Cidahu, namun celakanya belum sampai tiba di Rumah Sakit, Kita menjadi Korban Kecelakaan Tabrakan Beruntun, mobil Kita ringsek dan kamu sendiri dinyatakan Koma Gen, enam bulan lamanya".


"Misteri ini biarlah saya simpan, jauh di relung hati saya yang paling dalam, tidak perlu diingat apalagi dikenang, jika hanya membuat saya sakit kepala, untuk apa mencari jawaban secara logika ?, pastinya saya membutuhkan perenungan yang panjang, untuk menggali pemahaman metafisika, tentang petualangan saya bersama Malik, ternyata perjalanan itu, dikala saya mengalami Koma, huuuufh", selepas Sholat Isya, Regen mencoba mendamaikan pikiran dan hatinya yang sedang berseteru, sementara raganya sedang duduk termangu di belakang meja bartender, di Kedai kopinya yang sepi Customer.


"Gen, bisa tolong ambilkan dompet Papa ?, ketinggalan di dalam kamar", ucapan Ardhi yang hendak pergi, membuyarkan lamunan Regen.


Regen bergegas menaiki tangga menuju kamar Ardhi, untuk mengambilkan dompetnya yang tertinggal, sejenak ia tertegun, memandangi sebuah potret berukuran kartu debit yang terselip di dompet Ardhi yang tergeletak di atas meja dalam keadaan terbuka, sebuah foto yang memperlihatkan gambar Ardhi yang masih tampak muda, tengah berdiri disebelah Gadis cantik, di dekat tiang papan yang bertuliskan 'Puncak Manik'.


Regen segera menuruni tangga, untuk bertanya, "Gadis ini siapanya Papa ?", sambil menyodorkan potret kepada Ardhi yang sedang duduk menunggunya.


Ardhi menatap fotonya sambil tertawa, "Astaga Regen, ini kan Mama mu, haha".


"Oh ya ?, tapi dia itu Ririn Pa ?, Regen seolah tidak percaya.


"Hahaha, kamu ini kenapa sih ?, Gen, Ririn itu nama panggilan Mama sewaktu muda, tidak percaya ya ?, kalau Mama mu dulu, Gadis cantik yang imut dan ramping, sampai-sampai kamu merasa pangling ?" Ardhi memukul pelan bahu Regen.


"Astaga, jadi Ririn itu adalah Mama ?" Regen menghela napas panjang, mengenang Marina yang sakit karena kegemukan, perjuangan keras untuk menurunkan berat badan, berakhir tragis sebab Marina mengidap Penyakit Kronis.


Setelah mengantongi dompet, Ardhi pun berjalan keluar, meninggalkan Regen yang berdiri sendiri di muka pintu Kedai Kopi, tiba-tiba Regen di kejutkan oleh Pemuda yang tanpa disadari sudah berada di hadapannya.


"Assalamu'alaikum, selamat malam Pak, Saya datang untuk wawancara" suaranya lantang dan kencang.


"Aaastagaa" Regen seperti berdesis sembari tangannya mengusapkan dada.


Akhirnya ia teringat, jika sang Papa telah merekrut Karyawan untuk membantu Mereka bekerja di Kedai Kopi, Regen pun mempersilahkan Laki-Laki yang baru saja mengagetkannya itu untuk duduk.


"Silahkan duduk dulu saja Mas, Pak Ardhi sedang ada urusan sebentar".


"Panggil saya Oim saja Pak, Emas nya gak usah dibawa, gak enak saya, takut disangka Ria, hehe canda Ria", jawabnya bercanda, sembari menduduki sebuah kursi.


"Oh, kalau begitu panggil saya Regen saja, Bapaknya jangan diajak, kasian udah tua, kalau saya kan masih muda" ucap Regen membalas canda.


Regen Dejavu, merasa pernah saling melempar canda yang garing seperti itu, kemudian ia terperangah memandang Oim yang baru saja melepaskan masker dari wajahnya.


"Eet, kenapa dah muka gua, kok lu kaget gitu ??" tanya Oim keheranan, melihat Regen menatapnya dengan mulut menganga.


"Persis sama kata-katanya" batin Regen menyimpulkan.


"Lu Oim kan ?, lu ngenalin gue gak ?", Regen antusias bertanya dengan raut wajah yang serius.


"Barusan tadi kita kenalan, lah iya, gua Oim dan lu Regen kan ?" Oim tambah heran.


"Iya juga, huuuufh" Regen pun terdiam dengan pikiran yang runyam.


Lantas ia teringat dengan Buku Yasin, segera Regen berlari menuju tangga, untuk mengambil Buku Yasin dari dalam kamarnya.


"Lo kenal Dia ?", tanya Regen kepada Oim, sembari memperlihatkan foto Malik di dalam Buku Yasin.


"Dia Teman SMK gua, oh lu Temannya Malik juga, lu datang ke acara Tahlilan Setahun Meninggalnya ya?," Oim balik bertanya.


Kemudian Regen menceritakannya dari awal, tentang kisah misteri pertemuannya dengan Malik setahun yang lalu, berpetualang bersamanya hingga bertemu Oim di Savana Ungu, lalu berpisah dikala Mereka sedang asik bercanda di sebuah Taman yang indah, sampai akhirnya di sore tadi, ia berteduh di teras Rumah Malik karena kehujanan dan mendapatkan sebuah bungkusan yang di berikan Ibunya Malik, sebagai Oleh-oleh Kebendilan.


Oim mendengarkan cerita Regen dengan raut wajah yang terkesima, lalu ia menghela napas panjang dan bersiap untuk memulai bertukar cerita.


"Waktu itu gua lagi ada urusan Keluarga di Cidahu, pada malam Jumat setahun yang lalu, kala itu gua masih asik chatingan sama Malik, sampai jam 8 malam Kita saling lempar canda, lalu dia ijin off handphone karena mau Main Bola, kebetulan di malam Jumat itu dia bercerita, sedang Ikut pertandingan Sepak Bola antar cabang Bengkel Motor tempat dia bekerja, secara,  sejak Lulus SMK, dari pagi sampai sore Malik bekerja sebagai Mekanik, sedangkan di malam hari ia Mahasiswa Baru di Fakultas Teknik, tiba-tiba pada jam 10 malamnya gua dikabarkan Malik Meninggal Dunia, terus terang sampai sekarang gua masih gak menyangka, menurut teman-temannya yang lain, Malik tidak sadarkan Diri di tengah Pertandingan yang pada akhirnya menjadi Berita Kematian, huuuufh, gua pun hampir saja kehilangan Nyawa, sewaktu gua berangkat dari Cidahu menuju Citayam di keesokan malam harinya, gua menjadi Korban Kecelakaan Tabrakan Beruntun, asal lu tau Gen, gua pun sempat Koma, Alhamdulillah Ya Allah, Kita masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri, semoga jika di suatu hari nanti Kita Tiada, Kita dapat Meninggal Dunia dalam keadaan Husnul khatimah".


Kemudian hujan deras turun, Regen dan Oim yang sama-sama sedang terdiam duduk berhadapan sambil termenung, tiba-tiba dikejutkan oleh pintu kaca Kedai Kopi yang dibuka oleh Seseorang.


"Hallo permisi" Malika Pelangi masuk kedalam Kedai Kopi, sambil melepaskan jaket denimnya yang sedikit basah.


"Hey Ungi, sendirian ?" tanya Oim yang terkejut seraya berdiri menyambut.


"Eh hay, berdua sama si Opet, Oim lagi Kebendilan juga ?" yang dimaksud opet adalah sebuah Vesva biru muda milik Malik yang sedang terparkir di depan pintu kaca Kedai Kopi.


Lalu handphone Ungi berdering, kemudian Ungi pun menjawab video call dari sang Ibu. "Hallo Ibu, ini Ungi lagi Kebendilan di Nara Coffee, nasi gorengnya udah Ungi beli, nanti pulangnya tunggu hujan reda ya" posisi Ungi membelakangi Regen yang tengah terpana memandanginya.


"Eh itu, ada Anak Cowok dibelakang Ungi siapa ?, kok dia ngeliatin Ungi sampai melongo begitu, dugaan Ibu, sepertinya dia naksir Ungi tuh", celoteh sang Ibu.


Video call terputus, Ungi pun menoleh kebelakang, menangkap basah Regen yang kedapatan sedang terpana memandangnya.


"Hey, kamu yang di kereta kan ?, yang sakit kepala itu kan ?", tanya Ungi kepada Regen.


"Aku mau pesan hot coffee latte satu ya" Malika Pelangi dengan tersenyum manis memesan sebuah menu yang tertulis dalam banner yang berada di dekat pintu masuk Kedai Kopi.


"Iya sama, gua juga Gen, hot kopi latte satu, hehe" Oim ikut pula memesan menu yang sama seraya menyengir.


"Kalau disaat hujan deras nanti, lu berjumpa sama Pelangi, salam ya, tolong bilang ke Pelangi, jagain Ibu Pertiwi" raut wajah sendu Malik, terkenang lagi oleh Regen.


"Apakah pas waktunya, jika saya sampaikan pesan Malik kepada Adik Perempuannya sekarang ?, tapi bagaimana jika nantinya dia malah salah sangka ?, namun mengapa detak irama jantung saya, jadi dag dig dug begini rupa dikala melihat senyumannya? duh !", Regen jadi salah tingkah.


"Naksir bilang Boss, diem-diem bae, ini Kedai Kopi buat minum kopi, apa buat ngelamun aja dari tadi?" sindiran canda Oim, membuat Regen segera bangkit dan melangkah menuju meja bartender untuk meracik minuman yang dipesan oleh Malika Pelangi.


"Coffee latte kali ini gratis, sebagai balasan kebaikan kamu di Kereta, silahkan diminum dan semoga Kamu jadi ketagihan" Regen terlihat grogi, menyuguhkan kopi ke hadapan Malika Pelangi.


"Astaga, Ungi doang yang dilayanin, lah gua seret dari tadi, dianggurin ?" celoteh Oim lagi.


Regen tertawa seraya menggaruk-garukan kepalanya, "Lo di terima Bekerja mulai malam ini, kalau mau ngopi silahkan bikin sendiri, nanti tinggal dipotong gaji" 


"Ya Salaamm" Oim menepuk jidatnya sendiri.


Regen yang mengulum senyum berbicara di dalam Hati,


"Saya ini memang aneh, menjelang Remaja suka membaca, menonton dan mendengarkan tentang Cerita Misteri, namun setelahnya menjadi ketakutan berlebihan sendiri, tapi untungnya sekarang tidak lagi, saya sudah lebih Dewasa untuk mencerna segala makna yang terkandung dalam sebuah Cerita, seperti malam hari ini contohnya, melihat Malika Pelangi dan Oim ada di hadapan saya, Mereka sedang  berbincang saling bercanda, bukankah Mereka bagian dari Cerita Misteri dalam Hidup saya ?, saya pun menggaris bawahi pesan dari Malik, 'Sebuah Perjalanan Akan Sangat Aman Selagi Kita Membawa Cukup Bekal', bukankah Kehidupan dan Kematian itu sendiri, sama-sama sebuah Perjalan ?, tinggal bagaimana saya sekarang dengan apa menyiapkan Perbekalan itu, Mama bilang, 'Kebaikan Dan Kejahatan yang Kita Lakukan Kelak Akan Ada Balasannya', tentunya saya harus lebih bijak dalam berpikir, berkata, bersikap dan bertindak, karena saya ingin perjalanan saya Selamat baik di Dunia maupun di Akhirat, akhirnya saya mengerti arti dari tatapan tajam lupus, menurut penuturan Malika Pelangi, kucing hitam itu ditemukan mati Sehari setelah Malik Dimakamkan, sepertinya lupus tidak rela jika Tuannya saya repotkan, terima kasih Mama Ririn cantik yang suka sekali mengkritik, Bersenang-senanglah  Mama, Malik dan lupus dalam Liburan Kalian yang panjang, selamat Berpetualang menikmati Indahnya Pemandangan, di Alam Taman Surga yang indah, saya yakin Kalian disana Berbahagia, akhir kata dari saya, Sampai Jumpa Lain Waktu Sobat, Wallahualam Bishawab".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar